Sejarah pergerakan nasional Indonesia kerap kali ditulis dan dikenang melalui kacamata yang sangat maskulin. Narasi Kebangkitan Nasional selama ini hampir selalu didominasi oleh peran tokoh-tokoh laki-laki, mulai dari berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 di Hindia Belanda hingga kemunculan berbagai organisasi pemuda lainnya di tanah jajahan. Padahal, jika lensa sejarah digeser pada periodisasi yang sama ke arah pusat imperium, yakni Belanda, terdapat dinamika pergerakan antikolonial yang tidak kalah krusial. Di negeri para penjajah itulah, semangat kebangsaan justru tumbuh subur dan dirawat oleh para intelektual muda bumiputera. Namun, dalam gegap gempita wacana nasionalisme tersebut, satu pertanyaan mendasar sering kali terpinggirkan, di manakah posisi dan peran perempuan dalam pergerakan di Eropa?
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa arena pergerakan di Belanda tidak sepenuhnya menjadi ruang eksklusif bagi kaum laki-laki. Meskipun jumlah mereka sangat terbatas akibat kungkungan tradisi patriarki dan realitas ekonomi kolonial, segelintir mahasiswa perempuan Indonesia yang berhasil menempuh pendidikan di Eropa turut menorehkan jejak perlawanan yang signifikan. Keterlibatan mereka menanamkan ideasi emansipasi dan semangat antikolonial yang melampaui sekat-sekat kesukuan maupun gender. Untuk memahami signifikansi peran perempuan ini, perlu dibedah terlebih dahulu bagaimana ekosistem perantauan di Belanda terbentuk, serta melacak akar struktural yang menyebabkan kuatnya dominasi laki-laki dalam lanskap pendidikan tinggi pada masa itu.
Mahasiswa Indonesia di Belanda dan Perhimpunan Indonesia

Siti Soendari bersama pelajar Indonesia di Leiden (Sumber: Digital Collection/Leiden University Libraries)
Klaas Stutje dalam bukunya yang berjudul Di Balik Bendera Persatuan: Kalangan Nasionalis Indonesia dan Gerakan Antikolonial Dunia, 1917-1931, menyebutkan bahwa komunitas Indonesia di Belanda pada masa itu dapat dibagi ke dalam empat kelompok utama. Kelompok tersebut meliputi para pembantu rumah tangga yang datang bersama majikannya; buruh dermaga, pelaut, dan pramugara kapal; kalangan peranakan Tionghoa dari Hindia Belanda; serta kelompok mahasiswa. Dari keempat kelompok yang datang dalam beberapa gelombang sebelum dan sesudah Perang Dunia I ini, dinamika kelompok mahasiswalah yang kemudian memberikan dampak paling signifikan.
Terkait kelompok mahasiswa tersebut, masih merujuk pada buku Stutje, Harry A. Poeze mencatat bahwa sejak 1900 hingga 1940 setidaknya ada 278 orang Indonesia yang berhasil menamatkan pendidikan di Universitas Leiden, belum terhitung mereka yang belajar di universitas Belanda lainnya. Para pelajar ini datang ke Belanda demi mendapatkan akses pendidikan tinggi yang tidak mereka peroleh di tanah jajahan. Menariknya, terdapat pergeseran latar belakang sosial yang mencolok pada kelompok ini. Sebelum Perang Dunia I meletus, mayoritas mahasiswa Indonesia di Belanda berasal dari keluarga bangsawan tinggi Jawa atau anak pedagang kaya. Namun, setelah perang berakhir, akses makin terbuka sehingga keluarga bangsawan rendah dan kalangan menengah atas turut mengirimkan anak-anaknya untuk studi ke Belanda.
Semakin banyaknya pelajar Hindia Belanda yang merantau ke Eropa ini pada akhirnya mendorong kebutuhan akan sebuah wadah untuk bernaung. Merespons hal tersebut, pada Oktober 1908 di Leiden, didirikanlah Indische Vereeniging (IV), yang kelak akan dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia. Seperti yang dicatat oleh Stutje, perhimpunan ini awalnya bertujuan untuk “mempromosikan minat terhadap warga Hindia [Indiërs] di Belanda dan untuk berhubungan dengan Hindia Belanda”. Fokus utamanya adalah merajut solidaritas sesama perantau dari wilayah koloni, sekaligus menyediakan informasi serta akomodasi bagi mahasiswa yang baru tiba. Dari yang semula hanya beranggotakan sekitar 20 orang, jumlah anggota IV terus meningkat setiap tahunnya. Seiring berjalannya waktu, fungsi IV pun berkembang; dari sekadar paguyuban sosial menjadi wadah pertukaran pengetahuan yang aktif. Hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya majalah berkala Hindia Poetra pada tahun 1916, serta meluasnya jaringan IV yang mulai menjalin pertemanan dengan berbagai organisasi mahasiswa Belanda, Chung Hwa Hui (CHH), dan lingkaran akademis setempat.
Dominasi Mahasiswa Laki-laki
Pada masa awal 1900-an, sebelum Perang Dunia I, tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Belanda. Beberapa orang yang sanggup mengenyam pendidikan di pusat imperium hanyalah mereka yang berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Sebagaimana Poeze menulis nama-nama seperti Raden Mas Pandji Sosrokartono tercatat sebagai mahasiswa humaniora pertama dari Indonesia di Universitas Leiden pada tahun 1901. Meskipun kakak kandung dari R.A Kartini itu telah berada di Belanda sejak akhir abad ke-19. Mahasiswa lainnya dari periode yang tidak jauh berbeda adalah Raden Mas Ario Koesoma Joedha, putra dari Paku Alam V, yang terdaftar sebagai mahasiswa di Leiden pada 1902. Diikuti kemudian oleh Raden Mas Sajogo. Ketiganya, dalam tulisan Poeze yang berjudul Indonesians at Leiden University, tinggal bersama di Breestraat 95 di Leiden.

Populasi mahasiswa di Belanda, pada saat sebelum hingga sesudah Perang Dunia I, lebih banyak terdiri dari laki-laki. Terdapat beberapa hal yang umum menjadi alasan atas kondisi ini. Biaya pendidikan tinggi yang mahal hanya dapat diakses oleh kelas sosial tertentu di Hindia Belanda, entah bangsawan atas maupun pedagang kaya. Bagi bumiputera yang mampu, biaya pendidikan yang demikian mahalnya lebih baik diperuntukkan kepada anak laki-laki. Juga terdapat tradisi bahwa bagi perempuan yang bekerja, setelah mengenyam pendidikan, nantinya harus melepaskan jabatannya setelah ia diperistri. Kenyataan ini membuat pendidikan tinggi bukan prioritas utama untuk perempuan dari keluarga-keluarga negeri jajahan. Dalam situasi berbeda, meskipun bukan mahasiswa, keberadaan perempuan Indonesia di Belanda adalah karena status sosial mereka sebagai istri yang menemani suaminya belajar di pusat imperium.
Perempuan-Perempuan di Belanda
Berakhirnya Perang Dunia I meningkatkan gelombang mahasiswa Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi di Belanda. Perempuan tidak terkecuali meskipun beberapa di antaranya memiliki latar belakang dari keluarga bumiputera yang berada. Dalam tulisan Poeze perempuan peranakan Tionghoa yang berasal dari Ambon seperti, Sien Everdien Ongkiehong dan Anna Lucia Njiokiktjien tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Leiden. Sien mengambil jurusan farmasi sedangkan Anna Lucia menempuh Sastra di universitas yang sama. Keduanya juga tinggal bersama di Den Haag. Keduanya juga merupakan mahasiswa perempuan generasi awal yang menempuh studi di Belanda.
Nama perempuan lain yang pernah mengenyam pendidikan di Belanda adalah Siti Soendari dan Maria Ullfah. Keduanya sama-sama menyelesaikan studi dari Fakultas Hukum Universitas Leiden. Siti Soendari yang merupakan adik bungsu dr. Soetomo, mendapat kesempatan mengikuti jejak kakak tertuanya pada pada tahun 1927 untuk menimba ilmu di negeri Belanda. Mengambil studi di Fakultas Hukum Universitas Leiden, Siti Soendari tidak hanya menghabiskan waktunya di bangku kuliah, tetapi juga mulai berjejaring dan bersentuhan dengan arus pemikiran nasionalisme yang berkembang pesat di kalangan mahasiswa perantauan. Ia turut mewarnai diskursus intelektual di sana sebelum akhirnya kembali ke tanah air.

Sementara itu, Maria Ullfah menyusul berangkat ke Belanda pada tahun 1929. Ia datang mendampingi ayahnya, R.A.A. Mohammad Achmad, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kuningan dan tengah mendapat tugas belajar. Keputusan Maria Ullfah untuk mengambil studi hukum di Universitas Leiden sangat didorong oleh keprihatinannya melihat posisi perempuan bumiputera yang kerap dirugikan dan tidak berdaya di hadapan hukum adat maupun kolonial, terutama dalam masalah perkawinan. Ketekunannya membuahkan hasil ketika ia lulus pada tahun 1933, sekaligus menorehkan sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana hukum (Meester in de Rechten).
Terlibat dengan Gerakan Sosial dan Politik
Selain menempuh pendidikan formal, para mahasiswi ini juga secara aktif memperluas jaringan sosial dan politik mereka melalui dunia pergerakan. Di Leiden, tokoh-tokoh seperti Siti Soendari dan Maria Ullfah tercatat menjalin interaksi dengan organisasi mahasiswi setempat, seperti Vereeniging van Vrouwelijke Studenten te Leiden (VVSL) atau Perhimpunan Mahasiswi Leiden, yang membuka wawasan mereka terhadap dinamika diskursus gerakan perempuan di Eropa.
Lebih jauh lagi, kesadaran nasionalisme yang makin tajam mendorong mereka untuk turut berjejaring dengan lingkaran Indische Vereeniging yang saat itu telah bertransformasi menjadi lebih radikal di bawah nama Perhimpunan Indonesia (PI). Meskipun Maria Ullfah tidak pernah tercatat sebagai anggota PI, karena ia takut akan membahayakan ayahnya.
Keterlibatan mereka di sekitar orbit Perhimpunan Indonesia membuktikan bahwa perempuan bumiputera mampu berdiri sejajar dalam pergulatan politik antikolonial, sekaligus menegaskan bahwa gagasan kemerdekaan nasional harus terus berjalan beriringan dengan perjuangan kesetaraan hak-hak perempuan.
Mengintegrasikan Perjuangan Antar Benua
Kesadaran politik Maria Ullfah semakin menebal selama bermukim di Belanda. Salah satu katalis paling penting dalam perjalanan intelektualnya adalah persinggungannya dengan buku Indonesia Klaagt Aan (Indonesia Menggugat). Buku tersebut ia beli di toko buku Dubbledeman. Pada dasarnya buku ini adalah naskah pleidoi atau pidato pembelaan Bung Karno di depan Pengadilan Bandung pada tahun 1930 yang dibukukan.
Membaca naskah Indonesia Klaagt Aan memberikan pukulan kesadaran bagi Maria Ullfah muda betapa menyenangkannya hidup di negara merdeka, meski pada waktu itu Belanda adalah ruang refleksinya. Gagasan-gagasan tajam Bung Karno tentang eksploitasi kolonialisme dan hak mutlak suatu bangsa untuk merdeka memantik semangat kebangsaannya. Pengalaman membaca teks perlawanan tersebut membuatnya tidak sekadar menjadi mahasiswa pasif yang belajar ilmu hukum, tetapi bertransformasi menjadi sosok yang menyerap semangat antikolonialisme dari lingkungan Perhimpunan Indonesia. Melalui literatur dan pergaulannya di Belanda, Maria Ullfah mulai mengintegrasikan dua perjuangan besar dalam hidupnya, emansipasi hak-hak perempuan dan cita-cita kemerdekaan bangsanya.
