Sepanjang 2014 sampai 2015, saya beruntung bisa belajar langsung dari Rudolf Mrázek di Northwestern. Ia mengajar mata kuliah berjudul Indonesian Utopia, di mana kami membedah Kartini, Sjahrir, Sukarno, Pramoedya Ananta Toer, dan Mas Marco Kartodikromo. Pada waktu itu, utopia adalah tema utama yang tertulis di silabus kelas kami, tetapi seiring berjalannya minggu-minggu kuliah di tengah dinginnya musim salju Evanston, saya perlahan menyadari bahwa semua bahan bacaan yang Mrázek bawa untuk didiskusikan selalu berujung pada revolusi. Mengapa Mrázek merelasikan utopia dan revolusi, dan mengapa pendekatan ini penting bagi analisis historis kita mengenai Indonesia?
Jawaban atas teka-teki itu mengendap perlahan dalam benak saya lewat kontemplasi yang panjang, jauh melampaui lembar-lembar silabus kuliah. Di bawah bimbingan Mrázek, saya menyadari bahwa utopia memiliki arti yang jauh lebih mendalam daripada sekadar khayalan kosong tentang masa depan yang sempurna. Bagi Mrázek, utopia adalah daya hidup—bahan bakar emosional yang membuat orang-orang di masa lalu rela mengorbankan kenyamanan mereka demi sesuatu yang belum berwujud bernama “Indonesia”. Relasi antara utopia dan revolusi terjalin sangat erat karena revolusi merupakan momen ketika manusia berani melompat melampaui batas kepasrahan hidup mereka demi membidik sebuah concrete utopia. Di sinilah letak keindahan teoretis Mrázek: ia melihat para pejuang kita sebagai possible heroes—para pahlawan tragis yang ditakdirkan untuk gagal secara fisik, namun tindakan berani untuk terus “membidik” mimpi yang tampaknya mustahil itu memberikan kesadaran eksistensial bagi mereka tentang arti diri mereka sendiri dan dunia tempat mereka hidup.
Membaca ulang sejarah Indonesia melalui lensa ini mengubah cara saya memandang para bapak bangsa. Membaca biografinya yang terbit tahun 1994, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, membawa saya pada pergulatan batin Sutan Sjahrir sebagai seorang intelektual demokratis yang fasih dengan peradaban Barat. Sjahrir memanggul takdir sebagai borrowed people yang sangat elite—seorang anak asuh kolonial yang “dipinjam” oleh sistem pendidikan Belanda dan dididik di sekolah-sekolah tinggi. Utopia Sjahrir adalah Republik yang modern, beradab, demokratis, dan bersih dari fasisme. Namun, mimpi indah ini harus berbenturan dengan kenyataan kasar di lapangan. Sjahrir menanggung kepedihan eksistensial berupa alienasi kultural; ia terasing di tengah-tengah massa rakyat yang gagal memahami bahasa politiknya yang terlalu elite. Melalui kisah Sjahrir, Mrázek memperlihatkan bahwa utopia dalam sejarah bisa menjadi salib yang berat untuk dipanggul—sebuah pengingat tentang betapa sunyinya menjadi orang yang berpikir terlalu jauh melampaui zamannya.
Pergumulan batin ini menempuh rute yang sangat berbeda pada sosok Tan Malaka, yang dianalisis oleh Mrázek dalam artikel eksperimentalnya tahun 1972, “Tan Malaka: A Political Personality’s Structure of Experience”. Mrázek melacak perjalanan batin sang revolusioner ini melalui filosofi tradisional Minangkabau tentang rantau—sebuah perjalanan dialektis ke dunia luar untuk menyerap pengetahuan baru demi memperkaya tanah kelahiran. Bagi Tan Malaka, Marxisme adalah alat praktis untuk meruntuhkan cara berpikir mistis Timur yang pasrah pada nasib. Melalui karya filosofisnya, Madilog, ia ingin membangun sebuah materialism yang dinamis agar bangsa ini bisa tegak berdiri. Utopia yang ia bidik adalah Aslia—sebuah federasi sosialis masa depan yang modern, berdaulat, namun tetap memiliki jangkar spiritual yang kuat di tanah kelahirannya. Tan Malaka membuktikan kepada kita bahwa utopia adalah energi magis yang membuat seorang pelarian politik sanggup bertahan hidup dalam penyamaran bertahun-tahun di berbagai belahan dunia, dipandu oleh peta dari sebuah negara yang saat itu bahkan belum lahir di peta bumi.
Sikap keras kepala untuk merawat mimpi ini bahkan tetap menyala di tempat paling terpencil seperti Boven Digoel. Dalam artikel komparatifnya tahun 2009, “Boven Digoel and Terezín: Camps at the Time of Triumphant Technology”, serta tulisan tahun 2013, “Healing in Digoel”, Mrázek menyingkap bagaimana kamp pengasingan tersebut berfungsi sebagai aparatus modernitas ekstrem (concentrated modernity). Pemerintah kolonial menggunakan ilmu medis, sanitasi, dan sistem isolasi ketat sebagai alat kendali politik untuk mensterilkan para pembangkang dari dunia luar. Menariknya, para tahanan di sana melawan dengan cara yang sangat sederhana namun luar biasa indrawi: mereka tetap mencukur rambut dengan rapi, menjaga kebersihan pakaian putih mereka, membaca buku, dan menjaga martabat tubuh mereka. Tindakan merawat harga diri di tengah ganasnya hutan New Guinea ini adalah utopia dalam bentuknya yang paling konkret. Mereka menolak dijinakkan oleh sistem; mereka merawat impian kemerdekaan lewat disiplin harian tubuh mereka sendiri.
Sensory History a la Mrázek
Estetika tubuh inilah yang membawa saya pada pemahaman tentang cara kerja sensory history milik Mrázek. Melalui buku monumentalnya tahun 2002, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony, khususnya bab “Indonesian Dandy”, ia mengajak kita mendengarkan derit mesin cetak, meraba lipatan celana kain, dan mengamati gaya berpakaian kaum native dandy seperti Mas Marco Kartodikromo. Marco mengenakan busana necis Barat sebagai senjata ironis untuk menertawakan hierarki rasial kolonial. Di sini, pakaian beralih fungsi menjadi perisai modernitas sebelum akhirnya gerakan politik tahun 1928 menuntut seragam nasionalis yang lebih kaku dan berdisiplin demi taktik perjuangan organisasi.

Pada akhirnya, membaca seluruh karya Mrázek, termasuk buku biografi terakhirnya yang terbit secara anumerta pada 2024, Amir Sjarifoeddin: Politics and Truth in Indonesia, 1907–1948, mengajarkan saya sebuah sikap filosofis dalam menulis sejarah. Menulis sejarah adalah sebuah ikhtiar etis melawan aesthetics of disappearance—prosedur dingin kekuasaan yang selalu ingin melenyapkan mimpi-mimpi revolusioner yang gagal dari ingatan kolektif. Menulis sejarah, dalam kontemplasi ini, adalah the search of present time. Melalui serpihan memori yang puitis, Mrázek memastikan bahwa janji emansipasi yang pernah dirajut oleh para tokoh pergerakan di masa lalu menolak untuk mati, dan tetap bergetar sebagai gugatan etis yang abadi bagi Indonesia hari ini.
